Sasakbenan, Tradisi Muda Mudi Bawean yang Terlupakan di Bulan Sya'ban

Budaya  
Ilustrasi Bulan Purnama di Bulan Sya'ban (Sumber: Pinterest)

BOYANESIA -- Malam Nisfu Sya’ban yang digelar setiap 15 Syaban dianggap spesial bagi umat Islam karena memiliki banyak keutamaan. Di antara keutamaannya adalah dikabulkan segala doanya dan mendapatkan pahala yang melimpah.

Pada tahun ini, malam Nisfu Sya’ban jatuh pada 18 Maret 2022 mendatang. Pada malam ini, umat Islam di berbagai daerah di Indonesia akan memperbanyak amal kebaikan dan berdoa, termasuk di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur.

Selain itu, pada setiap 15 Sya’ban masyarakat Bawean zaman dulu juga kerap mengikuti tradisi Sasakbenan. Dalam tradisi ini, muda-muda Bawean banyak berkumpul di kekesekan pinggir pantai usai sholat Isya’, khususnya setelah membaca surat Yasin di masjid atau mushalla.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Bagi masyarakat Bawean, pada malam ini memang diutamakan untuk membaca surat Yasin sebanyak tiga kali dengan niat agar diberi umur panjang dan terhindar dari bala dan bencana, serta untuk keluasan rezeki. Setelah itu, barulah mereka menjalankan tradisi Sasakbenan.

Saat saya masih lima bulan berada di dalam kandungan, ibu saya juga sempat mengikuti tradisi Sasakbenan ini di pinggir pantai, tepatnya di Pelabuhan Perikanan, yang tak jauh dari Dermaga Utama Bawean. Waktu itu, ibu saya berangkat dari Desa Daun menggunakan mobil pikap bersama keluarga.

Bekto ngandung bekna lima bulan, eson pernah norok asasakbenan, nyaterro ngebesa oreng (Waktu saya hamil kamu lima bulan, saya pernah ikut Sasakbenan, hanya untuk lihat keramaian),” kata ibu saya.

Pelabuhan Perikanan yang terletak di pesisir pantai memang menjadi tempat paling banyak dikunjungi pada malam Nisfu Sya’ban. Masyarakat dari berbagai desa berkumpul di tempat ini untuk melihat full moon atau bulan purnama. Ada pula yang datang hanya untuk melihat keramaian dan makan bersama keluarga di pinggir pantai.

Selain berkumpul di pinggir pantai, kata ibu saya, ada juga masyarakat yang naik jhukong atau perahu kecil untuk berkeliling di pesisir pantai. Sayangnya, setelah saya lahir sekitar 1990-an sampai sekarang, tradisi ini sudah mulai terlupakan. Karena, sejak saat itu muda-mudi Bawean lebih suka menonton televisi di rumah, atau sekarang lebih suka menyibukkan diri dengan gadget.

Untuk mengenang tradisi ini, sebuah grup musik Bawean yang menamakan diri Beku Bhei-Bhei kemudian menciptakan lagu yang berjudul “Amempe” atau Bermimpi. Grup ini berusaha menggambarkan keadaan tradisi Sasakbenan yang selalu di tunggu-tunggu oleh muda-mudi Bawean.

Lagu “Amempe” ini menjadi obat rindu bagi masyarakat Bawean yang sedang merantau ke Tanah Jawa maupun ke Singapura dan Malaysia. Dengan mendengar lagu ini, mereka akan teringat dengan Sasakbenan, saat bermain hingga larut malam di pantai dan kembali ke surau masing-masing agar tidak ketinggalan mengaji di waktu Subuh.

Penulis: Muhyiddin Yamin

Berikut cover lagu Bawean “Amempe”:

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jika kamu ingin berbagi artikel atau cerita bisa mengirimkannya ke email boyanesia7@gmail.com

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image