Merantau Jadi Lelaki Sejati

Serba Serbi  
Ilustrasi merantau.

Oleh: Boe

MERANTAU, Merantaulah untuk menjadi lelaki sejati. Jangan pernah kau bilang kau lelaki sejati kalau tak pernah merantau.

Kata-kata itulah yang memaksa aku untuk meninggalkan tanah kelahiranku yang ramah, melintas lautan, hidup terombang-ambing di tengah ganasnya samudera mengempaskan satu titik kecil yang tak berarti. Sebetulnya hidup di tanah sendiri aku tak kekurangan apa, orang tuaku memiliki tanah ladang yang cukup luas, tambak ikan, juga beberapa ekor sapi yang besar-besar. Sama sekali tak kekurangan apa. Lantas mengapa aku harus pergi merantau, mencari sesuatu yang tak begitu pasti.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Kalau bukan karena tradisi yang mengharuskan aku meninggalkan tanah kelahiranku yang bersahabat, aku tak mau merantau. Merantau sudah menjadi keharusan bagi masyarakat tanah kelahiranku. Moyang kami adalah orang-orang yang menghabiskan sejarah hidupnya di tengah samudera yang maha luas, hidup sebagai pengembara dari satu pulau ke pulau lainnya. Mereka tak kenal takut pada angin, badai, serta ombak besar yang siap menghancurkan, memporak-porandakan perahu mereka. Mereka benar-benar pendekar. Mereka benar-benar lelaki sejati.

Masih terngiang jelas pesan almarhum ayahku sebelum beliau pergi.

“Nak setelah aku tiada nanti pergilah merantau. Ini harus kau lakukan, ini wasiat. Ini demi martabat kita. Cuma kau satu-satunya yang bisa aku harapkan sebagai penerusku. Jadilah lelaki sejati. Jadilah pendekar Nak, seperti ayahmu ini yah .yah .” lalu ajal menjemputnya.

Setelah acara tujuh hari kematian ayahku. Aku masih ragu untuk menunaikan wasiatnya. ‘Demi martabat’, martabat apa? Sebetulnya, ibu tak sampai hati melepaskanku pergi menuju perantauan. Sebab, aturan dalam tradisi kami, seorang yang hendak merantau hanya boleh membawa uang ongkos cukup untuk daerah yang dituju saja. Selama diperantauan, tak boleh dikirim. Berani merantau bararti berani hidup susah.

Berani hidup susah, bersiaplah untuk menjadi pendekar. Menjadi pendekar, berarti lelaki sejati. Begitu panjang jalan yang harus ditempuh hanya untuk mendapatkan status, ‘lelaki sejati’. “Berangkatlah Nak jika hatimu sudah bulat. Carilah apa yang hendak kau cari. Dan setelah kau temukan itu. Segeralah pulang. Hiduplah bersama kembali. Jangan pernah lupa pada tanah kelahiranmu, tanah dimana kau tumbuh menjadi seorang lelaki, lelaki sejati.

Seburuk apapun kondisi tanah ini, jangan sampai kau melupakannya. Lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang.” Kemudian peluk-rangkul ibu melekat di tubuhku. Air mata ibu menetes di bahu. Tak sampai hati untuk meninggalkan ibu yang baru saja menjanda. Siapalah nanti yang akan merawat beliau.

Hanya ada kakak perempuan dan adikku yang masih berumur 14 tahun, dia pun juga perempuan. Memang, seperti yang aku bilang sebelumnya, soal materi keluarga kami tak kekurangan, meski juga tak berlebihan. Tapi, hidup dalam satu keluarga tanpa ada seorang lelaki di tengah-tengahnya tidaklah lengkap rasanya. Aku yakin, mereka berpikiran seperti itu.

***

Kemudian aku berangkat. Meninggalkan tanah kelahiran, tanah di mana aku tumbuh sebagai lelaki, tempat aku bermain bersama teman-teman yang kadang berujung pada pertengkaran. Tanah kelahiran tempat aku hidup nyaman tanpa kekurangan sandang dan pangan. Baru beberapa meter kaki melangkah. Aku menoleh pada ibu, seorang wanita hebat yang membesarkan aku, seorang wanita luar biasa yang mendidikku dan mengajariku tentang hidup dan kasih sayang.

Aku melihat ia tersenyum. Senyum itu menguatkan hatiku untuk terus melangkah. Tapi, pipi ibu tampak basah. Oh, dia masih menangis rupanya. Tak tahan, air mata yang kubendung akhirnya juga tumpah. Aku mencoba tersenyum tapi mukaku kaku. Tak kuat aku berlama-lama, lalu aku melangkah dan terus melangkah menuju jalan raya, kemudian mencari kendaraan tumpangan menuju

pelabuhan. Aku akan merantau, mengikuti jejak nenek moyang demi pencapaian menjadi ‘lelaki sejati’.

***

Aku sudah sampai di pelabuhan. Di sana, laut menyapaku dengan desiran angin, membuat rambutku yang sebahu melambai-lambai seolah membalas sapaan laut. Saat itu laut tampak sopan sekali, di kejauhan sana para nelayan sedang asik memancing ikan di atas perahu kecil yang disebut jhukong.

Tak jelas kemana akan aku arahkan kemudi perahu. Pokoknya aku harus keluar dari pulau ini untuk menuju pulau-pulau lain. Menantang ombak, bercengkrama dengan badai. Ini perjalan pertama dalam hidupku, dan harus aku jalani seorang diri.

Tak jelas berapa waktu yang harus ditempuh untuk menuju satu pulau menuju pulau lainnya. Sebelum membenahi arah kemudi, aku tatap kedamaian yang menghias tanah kelahiranku. “Aku akan cepat pulang, menjadi lelaki sejati!!!” teriakku dalam hati.

Langit cerah, tak ada tanda sedikit pun yang menandakan cuaca akan buruk. Aku semakin

optimis untuk menaklukkan lautan luas ini. Di langit, aku melihat beberapa ekor burung layang-layang berkejar-kejaran. Menikmati indah lautan di sore itu. Burung-burung itu berputar-putar tanpa jelas kemana tujuanya.

Perahu mulai bergerak menjauh dari dermaga. Aku mengatur kemudi agar pas arahnya. Pasukan gelap mulai menyelimuti permukaan bumi. Aku dan perahuku, terus berjalan menuju satu arah yang aku tak tahu. Laut senantiasa bersahabat. Tak ada segulung ombak pun yang membuatku panik. Hingga, sesuatu yang diluar dugaanku datang begitu saja. Tiba-tiba saja langit menjadi gelap.

Bintang-gemintang yang sedari tadi menemani perjalananku hilang. Rupanya mereka takut pada pasukan gelap, kabut tebal yang menjadi pertanda hujan deras akan mengguyur. Sontak saja aku panik, firasatku mengatakan ini pertanda buruk. Ya, buruk sekali. Aku tak ada artinya di sini. Aku hanya titik kecil di tengah-tengah samudera luas. Aku hanya sediri.

Hujan mengguyur deras, gelombang laut mulai tak stabil. Perahuku terombang-ambing tak menentu arahnya. Kemudi tak berguna lagi. Sebab, kemana pun aku mengarahkannya, ombak besar selalu menerpa. “Tolong ” teriakku, bodoh memang aku berteriak di sini, sebab sekeras apapun aku berteriak.

Suaraku tak bisa mengalahkan suara guyuran hujan yang begitu deras. Juga, mana ada orang yang bisa menolong di tengah laut luas ini. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan sampai aku tak lagi bisa meneriakkan kata itu. Ombak besar tiba-tiba menggulung perahu dan awaknya, aku.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jika kamu ingin berbagi artikel atau cerita bisa mengirimkannya ke email [email protected]

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image