Lebaran 2022 Tanggal Berapa? Ini Penjelasan Ahli Astronomi

News  
Prof Thomas Djamaluddin (Dok. Pribadi)

BOYANESIA -- Salam toghellen (saudara)....Pada hari 10 terakhir Ramadhan ini mungkin sudah banyak yang ingin tahu kepastian Hari Raya Idul Fitri 1443 H. Nah, jika kamu termasuk yang sedang googling dan mengetik Lebaran 2022 tanggal berapa? Ini dia penjelasan Ahli Astronomi.

Jadi, pada Senin (26/4/2022) kemarin saya sempat ingin melakukan wawancara soal ini dengan Ahli Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof Thomas Djamaluddin. Namun, saat akan bertanya tentang Lebaran 2022, Prof Thomas ternyata sudah menuliskannya dalam bentuk artikel, dan ini lah penjelasan beliau yang telah diizinkan untuk dikutip.

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Kemenag ini menjelaskan, posisi bulan pada 29 Ramadhan 1443 atau 1 Mei 2022 di wilayah Indonesia berada pada batas kriteria baru Menteri Brunei Darussalam Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Tingginya sudah di atas tiga derajat, tetapi elongasinya sekitar 6,4 derajat.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

"Dari berbagai pendapat pakar hisab rukyat, kemungkinan besar Idul Fitri akan seragam 2 Mei, tetapi masih ada potensi perbedaan Idul Fitri 3 Mei 2022," kata Prof Thomas.

Dia pun mengungkapkan beberapa alasan yang mendukung kemungkinan besar Idul Fitri 1443 pada 2 Mei 2022.

Alasan pertama, secara hisab posisi bulan pada saat Maghrib 1 Mei 2022 di wilayah Sumatera bagian utara dekat dengan batas kriteria elongasi 6,4 derajat. Bahkan, beberapa hisab kontemporer dari beberapa kitab menunjukkan beberapa wilayah di Sumatera sudah memenuhi kriteria elongasi 6,4 derajat, seperti hisab yang dilakukan Ibnu Zaid Abdo el-Moeid.

Alasan kedua, ada dukungan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) Odeh bahwa pada saat Maghrib 1 Mei 2022 di sebagian wilayah Indonesia hilal mungkin bisa dirukyat dengan menggunakan alat optik (binokuler atau teleskop).

Alasan ketiga, bila ada laporan rukyat bahwa hilal terlihat kemungkinan akan diterima karena dianggap telah memenuhi kriteria baru MABIMS. Apalagi Lembaga Falakiyah PBNU menggunakan definisi elongasi geosentrik dalam kriterianya. Kalau kesaksian rukyat diterima pada sidang itsbat, secara syar’i itu sah.

Sedangkan alasan keempat, jika tidak ada laporan rukyatul hilal, mungkin juga sidang itsbat menggunakan yurisprudensi keputusan sidang itsbat penetapan awal Ramadhan 1407/1987 ketika tidak ada laporan terlihatnya hilal padahal saat itu hilal dianggap telah memenuhi kriteria imkan rukyat. Keputusan itu merujuk fatwa MUI 1981.

Ada potensi perbedaan

Karena Indonesia berada pada batas kriteria imkan rukyat, secara astronomi diprakirakan hilal sangat sulit dirukyat. Apalagi pada masa pancaroba saat ini, potensi mendung dan hujan mungkin terjadi di lokasi rukyat. Jadi ada potensi laporan rukyat menyatakan hilal tidak terlihat.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jika kamu ingin berbagi artikel atau cerita bisa mengirimkannya ke email boyanesia7@gmail.com

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image