Tokoh Bawean yang Terlibat dalam Jaringan Ulama di Timur Tengah dan Nusantara

BOYANESIA – Salam toghellen (saudara)....Pulau Bawean merupakan sebuah kecil yang terletak di sebalah utara Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Meskipun kecil, pulau berjuluk Pulau Putri ini banyak melahirkan tokoh yang terlibat dalam jaringan ulama di Timur Tengah dan Nusantara.
Dalam buku “Ulama Bawean dan Jejaring Keilmuan Nusantara Abad XIX-XX”, Burhanuddin Asnawi mengungkapkan tokoh-tokoh penting asal Bawean yang terlibat dalam jaringan Ulama di Timur Tengah dan nusantara pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Mereka adalah KH Muhammad Hasan Asy'ari, KH Abdul Hamid Satrean (Mas Doel), KH Mas Raji, KH Dhofir, Syekh Muhammad Zainuddin (Syekh Zein), KH Abdul Hamid Pancor, dan KH Subhan.
KH Muhammad Hasan Asy'ari sendiri termasuk generasi tua yang menjadi santri Syekh Nawawi Al Bantani di Makkah. Kiai Asy’ari ini kemudian diangkat menjadi menantu Syekh Nawawi Al Bantani setelah dinikahkan dengan putri keduanya, Nyai Maryam.
Lalu, menurut Burhanuddin, generasi yang menyusul selanjutnya adalah KH Mas Raji dan KH dhohir yang berada di markas yang sama setelah Kiai Asy'ari di Makkah pada awal abad ke-20, tidak lama setelah Syekh Nawawi wafat.
Artinya, kata Burhanuddin, nilai penting dari keberadaan generasi Pulau Bawean di Makkah semakin memperkuat adanya transmisi pengetahuan keagamaan yang tidak terputus dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Hingga akhirnya terjalin hubungan intelektual sebagaimana disebut Zamakhsyari Dhofier sebagai intellectual chains (rantai intelektual), baik karena hubungan kekerabatan atau karena hubungan murid dan guru dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Transmisi intelektual di Pulau Bawean kemudian berlanjut ketika para ulama Nusantara ini pulang ke kampung halaman membangun nilai-nilai agama, hingga menjadi akar tradisi keagamaan dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
“Bahwa nilai-nilai ajaran agama Islam menjadi akar dari tradisi yang berlangsung secara turun-temurun di Pulau Bawean,” jelas Burhanuddin.
Lalu, satu fakta sejarah penting di luar pembahasan Azyumardi Azra dan Zamakhsyari Dhofier tentang jaringan ulama dan rantai intelektual adalah peran penting dan sentuhan ulama asal Haramain yang sempat hijrah ke Bawean dan pernah tinggal di Nusantara.
Dalam kaitan ini, Burhanuddin menyebutkan dua tokoh penting asal Haramain yang hijrah ke Pulau Bawean, yaitu Syekh Ahmad Hasbillah bin Muhammad Al Habsyi dan Syekh Khalid bin Halil.
