Kiai Azaim: Orang Bawean Terkenal Alim dan Sakti

Agama  
Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, KHR Achmad Azaim Ibrahimy.

BOYANESIA -- Salam toghellen (saudara)....Selepas Idul Fitri 2022 lalu, KHR Achmad Azaim Ibrahimy menyempatkan diri untuk berkunjung ke Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Di pulau berjuluk Pulau Putri ini, Kiai Azaim mengisi pengajian akbar di tiga tempat, di antaranya di Masjid Al Muslimun, Dusun Alas Makmur, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura.

Kiai Azaim, panggilan akrabnya, merupakan salah satu cucu pahlawan nasional KHR As’ad Syamsul Arifin. Kiai Azaim kini menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, pesantren yang dibesarkan oleh kakeknya tersebut. Dia mengasuh belasan ribu santri yang berasal dari berbagai daerah.

Saat berceramah di hadapan ribuan warga Bawean, Kiai Azaim menyampaikan bahwa orang Bawean yang hijrah ke luar daerah itu terkenal alim dan ahli ilmu bela diri. “Para perantau bawean bermacam-macam. Ada yang mondok ke Sukarejo terkenal dengan alim dan keilmuannya, ada yang terkenal dengan kejadugannya (kesaktiannya),” ujar Kiai Azaim saat ceramah di Masjid Alas Makmur.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Menurut dia, kealiman orang Bawean bahkan terkenal sampai ke Tanah Suci. Saat belajar di Makkah, Kiai Azaim pernah mendengar tokoh ulama keturunan Bawean yang ahli Alquran, yaitu Syekh Muhammad Zainuddin Bawean atau Syekh Zaini Boyan.

“Waktu di Makkah bahwa ada orang Bawean yang terkenal dengan bacaan Qur'annya yaitu Syekh Zaini Boyan. Boyan ini cara melafazkan orang Makkah untuk kepulauan Bawean,” kata Kiai Azaim.

Saat masih kecil, Kiai Azaim juga pernah mendengar bahwa ketika mempraktikkan pencak silatnya, maka orang Bawean sama-sama tidak turun dari atas meja. “Dulu waktu saya kecil pernah dengar, orang Bawean kalau pencak silat itu di atas meja sama-sama tidak turun. Ini menunjukkan keahliannya dalam ilmu bela diri,” ucap Kiai Azaim.

Tidak hanya terkenal alim dan sakti, menurut Kiai Azaim, orang Bawean juga banyak menjadi musisi di Singapura. Karena itu, di sana ada ada lagu berbahasa Bawean yang berjudul “La Aobe”. Lagu ini diciptakan oleh musisi keturunan Bawean yang bernama Kassim Selamat (1934-2019) bersama bandnya The Swallows.

“Dan ini saya baru dengar juga kalau di sana ada musik terkenal berbahasa Madura (Bawean), siapa yang bawa? Ternyata orang Bawean, judulnya “La Aobe”,” kata Kiai Azaim.

Orang-orang Bawean yang hijrah ke Singapura, lanjut dia, juga memiliki kedermawanan yang tinggi. Menurut Kiai Azaim, orang Bawean yang merantau ke Singapura turut membantu perjuangan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo. Karena, Kiai Azaim sendiri juga pernah mondok di pesantren ini.

“Termasuk yang membantu perjuangan pondok pesantren di Paiton Nurul Jadid adalah orang Bawean. Bahkan kain tenun di Kraksaan (Probolinggo), ‘Sarung Bustomi’ itu orang Bawean. Maka, kesuskesesan orang-orang bawean di luar daerahnya menjadi inspirasi bagi banyak kalangan,” jelas Kiai Azaim.

Jadi, menurut dia, ketika orang Bawean atau orang Madura hijrah atau melakukan pergerakan, maka akan menunjukkan Al Harokah Barokah atau “Bergerak itu berkah”.

Akan tetapi, bukan berarti yang tinggal di Bawean tidak berprestasi. Karena, mereka lah sebenarnya yang bertugas merawat tradisi keagamaan di Pulau Bawean. “Bagaikan pohon, maka yang masih mempertahankan berada di tempat kelahirannya mereka sedang bertugas merawat akarnya,” kata Kiai Azaim.

“Boleh jadi, keberkahan mereka yang tersebar di luar daerah bahkan di luar negeri Malaysia, Brunei dan sebagainya adalah barokahnya para leluhur dan anak dzurriyahnya yang masih istiqomah menjaga tradisi kebaikan di Pulau Bawean,” jelas Kiai Azaim.

Jika akarnya tidak dirawat dan tidak disirami, lanjut dia, maka pohonnya bakal mati semua. Karena itu, menurut Kiai Azaim, warga Bawean yang tinggal di Tanah Kelahirannya harus terus merawat tradisi kearifan lokalnya.

“Rawatlah tradisi spiritual, rawatlah tradisi keagamaannya sebagai sambungan antara masyarakat dengan guru agama, guru rohani, guru para masyayikh. InsyaAllah di manapun orang Bawean masih tetap mendapatkan keberkahan. Shallallahu ala Muhammad,” ucapnya.

Namun, tambah dia, jika akarnya tidak dirawat semuanya bisa berubah seperti judul lagu “La Aobe”. Bukan hanya kenangannya yang berubah, tapi cara berpikir dan perilakunya juga bisa berubah.

“Kalau hanya cat rambutnya saja yang berubah itu tidak seberapa, akan tetapi kalau hatinya yang berubah naudzubillah min dzalik. Ketulusan, kepolosan, kejujuran ketika sudah hilang ikut dengan perubahan zaman, bukan zamannya, tetapi manusia yang hidup di zaman itu, maka akan terjadi pergeseran yang besar,” kata Kiai Azaim.

Ceramah ini disampaikan Kiai Azaim di Masjid Al Muslimun, Dusun Alas Makmur, Desa Daun, Sangkapura, Sabtu, 28 Mei 2022.

Berikut video lengkapnya:

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jika kamu ingin berbagi artikel atau cerita bisa mengirimkannya ke email boyanesia7@gmail.com

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image