Gresik Dilanda Banjir Rob, Pemerhati Lingkungan: Laju Abrasi Ekstrem

News  
Banjir rob berdampak besar pada jembolnya ratusan hektar area tambak ikan dan pemukiman di Gresik. Foto: Istimewa

BOYANESIA -- Banjir rob yang melanda berbagai wilayah di Kabupaten Gresik sejak Rabu (15/6/) berdampak besar pada jembolnya ratusan hektar area tambak ikan dan pemukiman. Pemerhati Lingkungan Perairan Gresik, Farikhah menungkapkan bahwa laju abrasi di Gresik terbilang ekstrem. Berdasarkan studi pada 2017, laju abrasi mencapai 5,15 kilometer persegi dalam 15 tahun terakhir, atau setara 0,34 kimoter persegi per tahun.

Farikhah menjelaskan, rob sebetulnya merupakan peristiwa alam, yaitu naiknya muka air laut masuk ke daratan yang diakibatkan gaya pasang surut air laut. “Beberapa pekan lalu terjadi rob dengan kekuatan hebat, sehingga menyapu wilayah di sepanjang garis Pantai Utara, seperti di Tuban, Ujungpangkah hingga Pulau Mengare,” kata Farikhah, Kamis (16/6).

Ketua Program Studi Budidaya Perikanan Universitas Muhammadiyah Gresik ini menambahkan, rob yang sekarang tampak lebih hebat dan merusak. Hal ini lantaran kurang adanya tanaman penahan banjir rob sehingga terjadi abrasi.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

“Beberapa titik yang saya lihat karena kurangnya tanaman penahan seperti mangrove,” ucap dia

Di Gresik, kata Farikhah, abrasi selalu beriring dengan akresi atau penambahan garis pantai akibat sedimentasi atau oleh orang daerah sini disebut sebagai tanah oloran. "Luasannya juga luar biasa. Sering juga masyarakat lokal menggunakan tanah oloran tersebut menjadi tambak,” kata dia.

Tak hanya itu, berdasarkan wawancara terhadap ribuan petambak di Kabupaten Gresik dan Lamongan ditemukan fenomena kenaikan air laut setiap tahunnya.

"Semua petambak merasa bahwa muka air laut mereka rasakan semakin tinggi dari tahun ke tahun. Kami mewawancarai 450-an petambak tradisional di Gresik dan 1066 orang petambak lamongan pada tahun 2021 dan 2022, hampir 100 persen mereka merasakan hal sama, yakni muka air laut semakin meninggi," jelas dia.

Dalam sebuah video di channel Youtube Watchdoc Dokumentary yang berjudul ‘Tenggelam Dalam Diam’ tayang pada tanggal 27 Maret 2021 dikatakan bahwa, di Pulau Mengare ada sekitar 32 ribu hektar tambak yang diperkirakan menghasilkan bandeng 40 ribu ton per tahun.

Meningkatnya permukaan air laut di kawasan ini menyebabkan abrasi, khususnya saat memasuki musim hujan. Untuk menghindari jebolnya tambak, biasanya para petambak membuat tanggul sederhana yang diberi penahan dari gedek bambu. “Ini mampu bertahan hingga enam bulan,” ujar Nastain, Pekerja Tambak dalam video.

Senada, Gatot Winarto, pegiat lingkungan Pulau Mengare mengatakan berdasarkan pengamatannya, setiap tahun tanah mengalami kemunduran sekitar 10 sampai 11 meter.

"Peyebabnya hantaman ombak bertemu dengan arus dari selat Madura," kata Gatot di video berdurasi satu jam tersebut.

Sementara itu, Dosen Unmuh Gresik, Yusa T. menjelaskan, ada beberapa faktor penyebab abrasi dan jebolnya tambak yakni intensitas hujan, rob dan kesetimbangan muara yang tidak diperhatikan sementara sedimentasi meningkat terus.

"Laut pasang dan rob adalah keniscayaan saat pasang surut. Namun jika sedimentasi yang terjadi dimuara dan kesetimbangan sungai terjaga, tentu banjir tidak akan terjadi," jelas dia.

Pewarta: Aif

Editor: Muhyiddin Yamin

Berita Terkait

Image

Banjir Rob, Ratusan Rumah di Gresik Tergenang

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jika kamu ingin berbagi artikel atau cerita bisa mengirimkannya ke email boyanesia7@gmail.com

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image