Jangan Salah, Ini Makna Minal Aidin wal Faizin

News  
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Sukaoneng, Kiai Syakir Jamhuri. Foto: Istimewa

BOYANESIA -- Salam toghellen (saudara)....Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah. Hari besar umat Islam ini merupakan momentum untuk saling bermaaf-maafan dan saling mengucapkan minal aidin wal faizin.

Namun, masih banyak orang yang belum mengetahui dan terkadang salah memaknai ucapan ini. Lalu apa makna ucapan minal aidin wal faizin yang benar?

Sebenarnya kalimat lengkapnya adalah "Ja Alanallahu wa Iyyakum Minal Aidzin wal Faidzin”. Artinya, “Semoga Allah SWT menjadikan kami dan Anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung”.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Doa ini diucapkan untuk mendoakan sesama Muslim agar kembali fitrah dan mendapat kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Sukaoneng, Kiai Syakir Jamhuri menjelaskan, Minal Aidin merupakan sebuah doa umat Islam agar bisa kembali suci seperti anak yang baru lahir.

"Minal Aidin maksudnya adalah kita kembali kepada kesucian, kita kembali kepada anak yang baru lahir, tidak punya hutang dosa lagi kepada Allah SWT, lebih-lebih kepada manusia," ujar Kiai Syakir saat menyampaikan khutbah Sholat Idul Fitri di Masjid At-Taqwa, Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Senin (2/5/2022).

Di momen Idul Fitri ini, dia pun mengingatkan kepada seluruh umat Islam untuk tidak menganggap enteng kesalahan kemanusiaan. "Jangan dianggap enteng kesalahan kepada manusia lain," ucap dia.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa orang yang terbaik adalah orang yang memberikan maaf, bukan hanya meminta maaf. Maaf tersebut terutama harus diberikan kepada orang-orang yang telah melakukan kesalahan, lebih-lebih kepada kedua orang tua dan para guru.

"Jangan sampai di hari Idul Fitri masih mempunyai beban hutang yang bukan hanya materi tapi non materi, seperti kesalahan dan lain sebagainya agar kita hidup di dunia dengan tenang," kata alumnus Pondok Pesantren Kyai Syarifuddin Wonorejo-Lumajang ini.

Apalagi, hidup di dunia ini hanya sementara. Mengutip hadits, Kiai Syakir menyampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلِكَ رواه الترمذي

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu'.” (HR At-Tirmidzi)

"Karena itu, di kesempatan yang berbahagia ini mari bersama-sama dengan suka, dengan ikhlas hati untuk saling memaafkan satu dengan yang lain," jelas Kiai Syakir.

Kiai Syakir mengatakan, selama ini mungkin masih banyak yang masih saling mencaci maki dan berbuat salah kepada orang lain. Karena itu, ibadah yang dilakukannya menjadi percuma dan di akhirat kelak akan diminati pertanggung jawaban.

"Justru orang dicaci maki, yang dicoba, yang dihina akan lebih baik. Bahkan, dosa-dosa orang yang dihina akan pindah kepada orang-orang yang melakukan penindasan," kata Kiai Syakir.

Dia pun mengajak kepada seluruh jamaah shalat Idul Fitri untuk selalu menjaga kerukunan. "Karena itu, mari kita membangun desa ini, membangun negara dan bangsa ini dengan penuh kerukunan. Mudah-mudahan kita semua oleh Allah Swt diberi kesempatan untuk hidup pada bulan Ramadhan yang akan datang," jelas Kiai Syakir.

Penulis: Muhyiddin Yamin

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jika kamu ingin berbagi artikel atau cerita bisa mengirimkannya ke email boyanesia7@gmail.com

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image