Kiai Sudrun, Sosok Kiai yang Raih Lailatul Qadar

Agama  
Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Foto: Republika

BOYANESIA – Salam toghellen (saudara)...Ramadhan sangat identik dengan malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih daripada seribu bulan. Terkait ini, ada kisah menarik bisa kita renungkan bersama. Kisah ini diceritakan budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun dalam situs pribadinya.

Hikmah dari Cak Nun kali ini disampaikan melalui sosok Kiai Sudrun, ini dia ceritanya..!!

Cak Nun menceritakan, suatu ketika seluruh penduduk kampung ribut luar biasa, karena tersebar berita bahwa Kiai Sudrun mendapatkan Lailatul Qadar. Rumah gubuk Kiai Sudrun di pojok desa dekat sawah dan bersebelahan dengan sungai, didatangi beramai-ramai.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Semua penduduk merasa kagum terhadap Kiai Sudrun, lalu mengucapkan selamat, sambil mempergunjingkan apa wujud Lailatul Qadar yang Allah anugerahkan kepada kiai yang satu ini.

Ternyata, Kiai Sudrun bersujud sejak tadi malam, sambil di bawah dadanya serta di antara dua tangannya terdapat bungkusan kain putih. Ia tidak menjawab ketika disapa dan tidak beranjak meskipun semua orang yang berkerumun bergiliran tanya kepadanya.

Akhirnya seorang tokoh sepuh bernama Pak Kamituwo berhasil mengajak Kiai Sudrun duduk iftirasy, membuka matanya dan tersenyum. Semua orang pun penasaran apa gerangan isi bungkusan putih itu, bongkahan emaskah, tumpukan uang atau bendel tebal cek yang siap diuangkan.

Tak terduga sebentar kemudian keadaan menjadi ribut, karena Kiai Sudrun tidak bersedia membuka bungkusan putihnya. Keadaan tak terkendali, orang-orang yang berkerumun itu meringsek. Kiai Sudrun tertindih terjepit, bungkusannya dibuka paksa.

Tiba-tiba sepi, semua orang terpana, antara kaget, bingung, dan kecewa. Ternyata isinya adalah Mushaf Alquran yang kumuh dan sobek-sobek pinggirnya. Terdengar beberapa suara,

“Kok Quran? Mana Lailatul Qadarnya? Kok Quran? Mana Lailatul Qadarnya? Kok Quran?”

Mereka semua minggir. Pak Lurah dan para sesepuh desa menginisiatifi untuk berkumpul di Langgar atau Mushalla untuk dilacak siapa sebenarnya yang menyebarkan berita bahwa Kiai Sudrun dapat Lailatul Qadar, serta apa yang dimaksud orang tua itu.

Setelah semua orang berkumpul, Kiai Sudrun membaca salah satu firman Allah SWT, “Inna anzalnahu fi lailatil qadr”, yang artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam qadar.

Baca juga: Cara Meraih Lailatul Qadar

Berdasarkan ayat tersebut, Kiai Sudrun menjelaskan, “Allah menurunkan Alquran pada malam Lailatul Qadar, bukannya Lailatul Qadar akan diturunkan oleh Allah dan kita menanti-nantikannya, apalagi dengan pembayangan Lailatul Qadar adalah rezeki materil dan keduniawian. Kapan saja engkau merasakan dan menemukan Alquran turun mencahayai jiwamu, pasti yang mengantarkannya adalah ‘tanazzalul Malaikatu war-Ruhu fiha’, yakni para Malaikat dan Paduka-Ruh yang menaburkan qadar-Nya Allah kepadamu, ‘hatta mathla’il fajr’ (sampai terbit fajar).”

“Andaikanpun kau gadang-gadang Lailatul Qadar adalah rezeki dunia, baik untuk memenuhi kebutuhan keluargamu, keajaiban bagi bangsa dan negaramu, atau karena semangat ingin kaya raya harta benda, maka insya Allah itu semua terkandung di dalam informasi nilai Alquran.”

“Apa maksud pertanyaan kalian tadi ‘Kok Qur’an?’,” kata Kiai Sudrun.

Untung kalimatnya tidak lebih menjadi ‘Kok hanya Qur’an?’.

Tunjukkan kepadaku sesuatu yang lain, kecuali ‘ahsanu taqwim’ yang lebih mahal dan tinggi nilainya dibanding Qur’an?”

“Ungkapkan kepadaku apa yang lebih malam seribu bulan dibanding Qur’an? Aku bersujud kepada-Nya, aku mendekap Qur’an-Nya, yang jauh lebih mahal dan mulia dibandingkan seluruh kekayaan dunia,” jelas Kiai Sudrin.

“Atau andaikan kekayaan dunia begitu pentingnya bagi manusia, masukilah Qur’an, selamilah, hiruplah ilmunya, terapkan untuk mencerdasi dunia agar tergali kekayaannya,” lanjut dia.

Menurut Kiai Sudrun yang sudah tua ini, tidak ada rahmat dan berkah Allah yang tidak bernilai Lailatul Qadar. Dia masih bisa bersujud, jari-jarinya masih lengkap, kakinya masih bisa berjalan, dan sehari-hari dia juga tak sampai kelaparan.

“Semuanya, apa saja, alam yang menghampar, matahari yang setia terbit, rembulan yang memayungi, tenggorokanku masih bisa menelan makanan dan mereguk minuma, semua itu kusyukuri sebagai Lailatul Qadar,” ucap Kiai Sudrun.

“Aku yang tua renta ini tidak diazab Allah saja sudah Lailatul Qadar. Utangku kepada-Nya tak terbayarkan, meskipun andaikan seratus kali aku hidup mati hidup mati, kuisi ruang dan waktuku hanya dengan terima kasih dan memohon ampun terus-menerus kepada-Nya,” jelas Kiai Sudrun.

Sumber: Caknun.com

Berita Terkait

Image

Cara Meraih Lailatul Qadar

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jika kamu ingin berbagi artikel atau cerita bisa mengirimkannya ke email boyanesia7@gmail.com

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image